Akhirnya tuntas sudah liga-liga papan atas Eropa, dan seperti yang kita tahu bersama, ada banyak hal-hal menarik. Tere liye, yang mengaku-ngaku sebagai penggemar bola amatiran, tidak ingin ketinggalan memberikan resume dan komentar akhir.
Inggris
Well, tetangga yang berisik itu ternyata memang punya kemampuan. Manchester City akhirnya juara melalui pertandingan super dramatis melawan QPR. Saya pikir, kalaupun City kalah lawan QPR, United tetap bukan tim terbaik yang layak memenangi gelar liga. Dua kali lebaran, eh, dua kali bertemu City di partai liga, dua kali pula mereka keok. City telah berhasil mengalahkan dirinya sendiri, menegakkan mental juara. Dan tdk ada kemenangan paling brillian selain melawan diri sendiri. Tentu saja Tuan Ferguson adalah pelatih yang selalu kembali, dulu United juga ditaklukkan oleh Chelsea dua kali, tapi Tuan Ferguson berhasil kembali memenangkan kompetisi. Apakah City menang karena mereka menggelontorkan begitu banyak uang membeli pemain? Dalam industri sepakbola modern, United juga melakukan hal yang sama. Dan itu sah-sah saja. Musim ini milik City mengingat United hanya punya piala Charity Shield.
Italia
Kalian masih ingat Del Piero? Usianya sekarang 37 tahun, walaupun bukan pemain paling penting, bersama tim-nya, mereka kembali menjuarai liga Italia. Apa tim-nya? Juventus, kawan. Tim yang di-degradasi ke kasta rendah karena skandal pengaturan hasil pertandingan pada tahun 2006. Dan bersama Buffon, kiper setia karena banyak pemain Juventus pindah gara-gara tidak mau bermain di Seri B, bersama skuad tersisa, mereka pelan-pelan kembali menapaki tangga juara. Bravo, Juventus. Ingat pesan Bang Haji, cukup satu kali kehilangan tongkat, jangan dua kali mengulangi kesalahan skandal tsb. Nah, sama dengan City, Juventus juga memenangkan pertandingan paling penting, melawan dirinya sendiri--bukan sekadar melawan AC Milan, Inter Milan, dan klub-klub top lain di Italian.
Spanyol
3-4 tahun lamanya hingar-bingar liga Spanyol seolah dikuasai oleh Barcelona. Hingga bahkan musim ini usai, Madrid menjadi juara, orang-orang seperti belum terbiasa. Padahal, musim ini, Madrid memenangkan kompetisi dengan rekor sepanjang sejarah poin 100--Barcelona saat hebat-hebatnya dilatih Guardiola hanya bisa mencapai poin 99. Dan orang-orang masih saja menilai Mourinho arsitek yang suka permainan bertahan, melupakan bahwa musim ini Madrid mencetak 121 gol - kebobolan 32 kali. Bandingkan dengan Barcelona yang 'hanya' mencetak 114 gol - kebobolan 29 kali. Itu artinya, rata-rata Madrid mencetak 3,2 gol setiap pertandingan. Mengagumkan. Madrid juga tim berikutnya yang juara dengan mengalahkan diri sendiri. Kemenangan 2-1 di kandang Barcelona adalah poin terpenting bagaimana mereka bisa meyakini dapat menang setelah 4 tahun terakhir hanya menjadi yang kedua di bawah Barcelona.
Selamat pada juara-juara liga top tersebut. Saya tdk mengikuti Liga Jerman, jadi tidak bisa ikut komen.
Kita seharusnya belajar banyak dari setiap drama sepakbola, bahwa di dunia ini, untuk menjadi yang terbaik, kompetitor sejati kita tidak pernah datang dari luar, tapi bagaimana mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan ketakutan, mengalahkan perasaan gentar, mengalahkan kemalasan, mengalahkan tinggi hati tidak mau belajar dan mengakui orang lain lebih baik, mengalahkan semua batasan-batasan yang mengekang diri sendiri. Sekali itu berhasil dikalahkan, hanya soal waktu kita akan jadi yang terbaik.
0 komentar:
Post a Comment
Silahkan berkomentar sesuai dengan topik post, komentar yang tidak pantas atau dianggap spam akan segera dihapus atau terjaring oleh spam filter
CC : Author