Selamat datang di Sajak Tere Liye. Situs ini adalah sebuah situs sederhana yang berisi kumpulan sajak, catatan dan kata-kata sehari-hari yang ditulis langsung oleh Darwis Tere Liye. Jadi ayo !!! bacalah sajak, cerpen, catatan, serta puisi yang indah dan menarik dari Tere Liye di sajaktereliye.blogspot.com

Monday, March 2, 2015

Bumi : Episode 20 - Catatan Darwis Tere Liye

“Kau tidak bisa menghilangkan sesuatu yang sejatinya sudah tidak kasat mata, Nak.” Sosok tinggi kurus di dalam cermin tertawa pelan. Aku tidak mengerti kalimatnya, tapi itu tidak masalah, karena aku juga tidak peduli dengannya sekarang. Si Putih mengeong pelan di gendonganku, meringkuk memasukkan kepalanya. Aku masih bersandarkan dinding kamar, mengarahkan lima jari tanganku ke depan, berjaga-jaga. Sosok tinggi kurus itu bergumam, tangannya terangkat sedikit seperti menggapai udara, lantas suara sesuatu, seperti gelembung air pecah terdengar pelan, plop, dan si Hitam, entah dari mana datangnya sudah berada di pangkuannya. Dengan bentuk normal, menggeram panjang. “Tetapi ini sungguh menarik. Pertunjukan yang hebat.” Sosok tinggi kurus itu mengelus tengkuk si Hitam, “Kau berhasil menghilangkan kucingku. Kau tahu, sejenak aku hampir khawatir.”

“Kau, siapapun kau, pergi dari kamarku.” Suaraku mendesis galak, tidak peduli dengan tawa berguraunya, lima jari tangan kananku masih mengarah ke cermin. “Kita sedang berlatih, Nak. Aku sedang melatihmu. Bagaimana mungkin kau mengusirku?” Sosok tinggi kurus itu menggeleng, “Soal kucing kau tadi aku minta maaf, aku tahu itu sedikit berlebihan, tapi itu terpaksa dilakukan, bukan? Kita tidak akan pernah tiba di level berikutnya kalau tidak dipaksa”. “Aku tidak peduli.” Aku membentaknya, memotong, “Kau pergi dari kamarku. Sekarang!” Hujan di luar semakin deras, boleh jadi Mama di bawah jatuh tertidur sambil menonton televisi, sehingga dia tidak mendengar keributan di kamarku. Atau boleh jadi Mama memang tidak bisa mendengar kejadian di dalam kamar. Sosok tinggi kurus itu menatapku lamat-lamat, mengangguk takjim, “Baiklah, Nak. Sepertinya kau akan memilih menghilangkan cermin kalau aku tidak segera pergi, dan itu boleh jadi akan membuat orang tua kau bingung saat mereka masuk ke kamar ini. Kita bahkan belum tahu apakah kau bisa mengembalikan benda yang telah kau hilangkan. Baiklah. Aku akan pergi. Lagipula latihan malam ini lebih dari cukup.”

Aku tidak mau tertipu lagi dengan ekspresi wajah bersahabat yang kembali menatapku dengan mata hitam mempesonanya. Lima jemariku terus bersiaga. Si Putih masih meringkuk dalam pelukanku, tidak berani bergerak. “Sebelum aku pergi, kau harus tahu, kau baru saja membuktikan kalau rasa marah, panik, cemas bisa dirubah menjadi kekuatan besar. Tapi itu bukan sumber motivasi yang baik, kita tidak berharap kau setiap hari terdesak oleh sesuatu baru berhasil mengeluarkan kekuatan itu, bukan, karena semua terlanjur berantakan, bahkan sebelum kau menyadarinya untuk marah.

“Nah, camkan baik-baik, sumber kekuatan terbaik bagi manusia adalah yang kalian sering sebut dengan tekad. Kehendak. Jutaan tahun usia bumi, ribuan tahun kehidupan tiba di dunia ini, semua mencoba bertahan hidup, maka kehendak yang besar bahkan lebih kuat dibandingkan kekuatan itu sendiri, dalam kasus kau, dibandingkan kekuatan menghilangkan. Kehendak yang kokoh, bisa menggandakan kekuatan yang kau miliki menjadi berkali-kali lipat.”

“Selamat berlatih kembali, Nak, kau tetap belum berhasil menghilangkan buku tebal, meskipun aku yakin itu akan mudah saja sekarang. Aku akan kembali besok malam, dan kau akan siap di level berikutnya.” Sosok tinggi kurus itu tersenyum, mengelus kucingnya, hendak berbisik. “Kau bawa pergi dia! Aku tidak ingin melihatnya lagi di rumah ini.” Aku segera berseru, teringat malam sebelumnya si Hitam menembus cermin. Dengan kejadian barusan, sedetik pun aku tidak akan mengijinkan mahkluk mengerikan itu berkeliaran di rumah.

Sosok tinggi kurus itu tertawa, membuat suara tawanya mengambang di langit-langit kamarku, “Kau tidak akan pernah bisa mengusir sesuatu yang sejatinya sudah terusir dari dunia kalian, Nak. Tetapi baiklah, jika itu akan membuat kau lebih bersahabat setelah awal yang sulit ini. ”Sosok itu menunduk, berbisik pada kucingnya. “Kau mau mengucapkan selamat tinggal?” Si Hitam menggeram, kepalanya terangkat, matanya menatapku tajam.

Aku memutuskan melihat pinggir cermin, benci bersitatap dengannya. Dan saat aku kembali menatap cermin, sosok tinggi kurus itu telah hilang bersama kucingnya. Kamarku lengang beberapa detik, menyisakan suara hujan deras. Cermin besar milikku kembali seperti cermin kebanyakan, tidak mengkerut, tidak gelap, dan tidak berembun. Aku menghela nafas panjang setelah memastikan kalau sosok tinggi kurus itu benar-benar telah pergi, lantas mendongak, menyeka pelipis yang berkeringat, menghempaskan badan di atas kasur. Astaga, bertahun-tahun merahasiakan kalau aku bisa menghilang, aku tidak akan pernah mengira malam ini akan menjadi rumit sekali.

Siapa sebenarnya sosok aneh di cerminku? Kenapa dia mengirimkan kucing untuk memata-mataiku? Kenapa dia melatihku? Apakah dia jahat? Apakah dia berniat baik? Apakah dia teman seperti yang dia bilang? Atau sedang menipuku? Aku sama sekali tidak punya jawaban atas pertanyaan yang memenuhi kepalaku saat ini. Menatap jam dinding, Sudah lewat pukul sepuluh malam, di luar sana, belum terdengar tanda-tanda mobil Papa memasuki halaman, boleh jadi masalah di pabrik tambah rumit.

Aku menghembuskan nafas kesekian kalinya. Memperbaiki rambut panjangku. Si Putih akhirnya bergerak pelan, dia keluar dari dekapanku, merangkak ke atas kasur, kepalanya menyundul pahaku, bergelung, menatapku dengan tatapan yang kusuka darinya selama ini. “Kau baik-baik saja, Put?” Si Putih mengeong sekali lagi. Mama dan Papa benar. Tidak ada si Putih dan si Hitam. Dari dulu, sejak pertama kali kotak kardus itu tergeletak di depan pintu rumah kami, hanya si Putih yang ada di sana. Siapa yang meletakkan kardus itu? Aku menggeleng. Tidak ada ide sama sekali. Dan besok pagi-pagi, aku bahkan tidak menduga, sesuatu yang lebih serius telah menungguku. Sisi lain itu telah tiba.
~bersambung

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Bumi : Episode 20 - Catatan Darwis Tere Liye

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar sesuai dengan topik post, komentar yang tidak pantas atau dianggap spam akan segera dihapus atau terjaring oleh spam filter

CC : Author