Selamat datang di Sajak Tere Liye. Situs ini adalah sebuah situs sederhana yang berisi kumpulan sajak, catatan dan kata-kata sehari-hari yang ditulis langsung oleh Darwis Tere Liye. Jadi ayo !!! bacalah sajak, cerpen, catatan, serta puisi yang indah dan menarik dari Tere Liye di sajaktereliye.blogspot.com

Tuesday, March 3, 2015

Bumi : Episode 19 - Catatan Darwis Tere Liye

Kakiku bergetar oleh rasa marah yang menyergap. Suara mengeong si Putih semakin lemah. Matanya menatapku meminta pertolongan. Sementara si Hitam yang mengunci tubuhnya dari atas, entah dia sebenarnya mahkluk apa, tubuhnya membesar sedemikian rupa dua kali lipat dalam hitungan detik, ekornya bergerak garang, kupingnya memanjang, bulu tebalnya berdiri seperti ribuan jarum tipis, mata bundar yang dulu aku suka, berubah menjadi kuning pekat, taringnya memanjang, suara geramannya membuat kamarku seperti mati rasa. “Konsentrasi, Nak!” Sosok tinggi kurus di dalam cermin membentakku, “Konsentrasi pada buku tebalnya. Tidak yang lain”. Aku menoleh ke arah cermin, menoleh lagi ke si Putih di atas kasur. Bagaimana aku bisa konsentrasi dalam situasi seperti ini. Bagaimana aku bisa konsentrasi ke novel tebal di atas kursi. “Kau siap atau belum, hitungannya akan kita mulai”. Suara sosok  tinggi kurus itu terdengar mengancam. Aku menggigit bibir, aku sungguh tidak banyak pilihan. Waktuku amat sempit untuk berhitung atas situasi yang kuhadapi. Sendal jepit yang kupegang bahkan boleh jadi tidak bisa melawan si Hitam yang berubah menjadi begitu mengerikan. Si Putih dalam bahaya, suara mengeongnya begitu menyedihkan. Aku menelan ludah kecut. Bagaimana mungkin dia dikhianati teman sepermainan sejak ditemukan dalam kotak berwarna pink, beralas kain beludru, ditutup kain sutera? Atau tidak? Atau memang kucing satunya itu tidak pernah hadir kasat mata di rumah kami. Si Hitam tidak pernah menjadi teman dari si Putih?

Satu.” Sosok tinggi menghembuskan nafasnya, memulai menghitung. Kali ini bahkan uap dari nafasnya seperti melewati cermin kamarku. Mengambang.Nafasku menderu kencang, jatungku berdetak lebih cepat. Apa yang harus kulakukan?

Dua.” Aku melepaskan sendal jepit ke lantai. Tidak banyak pilihan yang kupunya, dan dari terbatasnya pilihan, aku tidak akan membiarkan si Putih disakiti. Baiklah.

Tiga.” Tanganku bergetar menunjuk novel tebal di atas kursi. Jika semua ini hanya permainan, maka ini permainan paling mahal yang pernah kulakukan. Aku bertaruh dengan seekor kucing yang kupelihara sejak kecil, menyusuinya dengan botol.

Empat. Kosentrasi. Hilangkan buku tebal itu, gadis kecil.” Sosok itu membentakku, menyuruh berhenti memikirkan hal lain. Baik, aku mendesis dengan bibir gemetar, ‘menghilanglah’. Menyuruh novel tebal di atas kursi hilang seperti jerawatku kemarin malam. Satu detik senyap, hanya suara hujan buncah mengenai jendela, atap, halaman. Novel itu tetap teronggok membisu di atas kursi.
Aku mengeluh.

Lima. Kau berusaha lebih sungguh-sungguh atau kau akan kehilangan kucing kesayangan.” Sosok tinggi kurus di dalam cermin tidak menurunkan volume suara. Aku menggigit bibir, berusaha lebih konsentrasi. Menatap novel tebal kedua kalinya, telunjukku semakin bergetar, mendesis menyuruhnya menghilang. Senyap. Tetap tidak terjadi apapun.

Enam. Kau sungguh akan mengecewakan teman terbaikmu selama ini, Nak.”Ayolah, aku menggigit bibir, memejamkan mata. Untuk ketiga kalinya berusaha konsentrasi. Menyuruh novel itu menghilang. Apa susahnya. Ayolah. Membuka mata. Percuma. Tidak terjadi apapun. Ini benar-benar tidak mudah. Bahkan sebenarnya saat kemarin malam jerawat itu berhasil kuhilangkan, aku tidak ingat bagaimana caranya. Ini tidak seperti menutup wajah dengan kedua belah telapak tangan, lantas tubuhku hilang seketika, mudah dilakukan.Suara mengeong si Putih semakin lemah. Geraman buas si Hitam yang berubah menjadi kucing berukuran besar semakin memenuhi langit-langit kamar.

Tujuh. Jangan menyalahkan siapapun kalau kau kehilangan kucing. “Aku tidak bisa menghilangkannya!” Aku memotong kalimatnya, balas menatap galak sosok di dalam cermin, lihat sendiri, aku sudah empat kali mencobanya, novel itu tetap tidak hilang, “Dari tadi pagi aku sudah berusaha melakukannya. Novel itu tidak bisa hilang.”

Delapan.” Sosok tinggi kurus menatap dingin.“Kau, kau tidak boleh melakukannya.” Aku mulai berteriak panik, bahkan tidak peduli kalau Mama yang sedang menonton televisi bisa mendengar keributan di lantai dua.

Sembilan.” Sosok tinggi kurus menoleh ke si Hitam.“Kau, kau, awas saja kalau kau berani menyuruhnya.” Aku gemetar menunjuk ke cermin, berusaha mengancam dengan kalimat kosong—waktuku hampir habis, entah apa yang harus kulakukan.

Sepuluh.” Sosok itu menyeringai tidak peduli, “Habisi kucing lemah itu.”Belum habis kalimat sosok tinggi kurus di dalam cermin, si Hitam sudah menggeram panjang senang, mata kuningnya berkilat-kilat. Dan kakinya yang sekarang lebih besar dibanding kepala si Putih terangkat naik, siap mematuhi perintah pemilik aslinya.Astaga? Apa yang bisa kulakukan sekarang? Aku sungguhan panik. Si Hitam menghantamkan kakinya ke kepala si Putih. Petir menyambar terang, cahayanya berkelebat masuk ke dalam kamar. Guntur menggelegar. Aku berseru, tidak ada, tidak ada yang boleh menyakiti si Putih. Sepersekian detik sebelum kaki si Hitam mencakar si Putih yang tidak berdaya, lima jemari tangan kananku bergerak cepat, mendesis, menghilanglah! Menghilanglah! Splash.

Geraman si Hitam lenyap bagai suara televisi dipadamkan. Juga bulunya yang berdiri, ekornya yang tegak, taringnya yang panjang, mata kuningnya, lenyap bagai kabut terkena matahari terik. Tidak berbekas apapun di atas kasur. Langit-langit kamarku lengang sejenak. Bahkan si Putih yang terbaring di atas kasur tidak mengeong. Dia meringkuk gemetar. Terlalu lemah badannya. Mungkin takut hingga batas terakhir. Si Putih menatapku, mata bundarnya terlihat buram. Berterima kasih.

Sosok tinggi kurus itu juga menatapku, lamat-lamat, seperti habis menyaksikan pertunjukan yang tidak dia kira. Aku tersengal, nafasku menderu, tidak peduli dengannya sekarang, loncat ke kasurku, menarik si Putih, menggendongnya erat-erat, melindungi dari kemungkinan apa saja. Berbisik, semua akan baik-baik saja, Put. Memeluk kucing kesayanganku itu. “Kau? Ini menakjubkan, gadis kecil.” Sosok tinggi kurus masih menatapku, suaranya kembali datar, “Ini di luar dugaanku sama sekali.”Aku tidak mendengarkan dengan baik sosok tinggi kurus itu. Aku merapat ke dinding, menatap cermin galak, jemari tangan kananku mengacung ke cermin.

“Bagaimana kau melakukannya?” Sosok tinggi kurus itu bertanya. Aku menggeleng. Berusaha mengendalikan nafas. Aku sungguh tidak tahu bagaimana aku bisa menghilangkan monster kucing yang memiting si Putih. Kejadiannya terlalu cepat. Aku panik, yang kupikirkan pendek. Aku tidak tahu, menggeleng sekali lagi. Pergi. Kau pergi jauh-jauh dari sini. Lima jemariku mengarah ke cermin, mengancam.
**bersambung

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Bumi : Episode 19 - Catatan Darwis Tere Liye

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar sesuai dengan topik post, komentar yang tidak pantas atau dianggap spam akan segera dihapus atau terjaring oleh spam filter

CC : Author