Lapangan sekolah dipenuhi oleh anak-anak yang pulang dari sekolah. Juga lorong kelas, anak tangga. Dengung lebah mengisi langit-langit. Sementara itu, di langit sesungguhnya, gumpalan awan tebal mengisi setiap pojokan. Musim penghujan, pemandangan biasa. Aku bergegas mengejar si biang masalah di antara keramaian, sedikit menyikut teman yang lain. “Hei! Tunggu sebentar.” Aku meneriaki orang yang kukejar, kerumunan yang hendak menuruni anak tangga membuatku terhambat. “Hei, Ali! Tunggu. ”Aku meneriakkan namanya. Ali menoleh sekilas, tidak tertarik melihatku mengejarnya, tetap berjalan santai. Aku berhasil mengejarnya, menutup jalan di depannya, “Nih, hadiah buat kau.” Aku nyengir, menyerahkan pulpen biru. Demi menatap pulpen biru yang kusodorkan ke depan wajahnya, si jenius itu termangu. Aku nyengir, tebakanku tadi saat mengerjakan ulangan bahasa Inggris benar, kurang lebih beginilah ekspresi khas orang tertangkap tangan. Benda ini memang milik si biang masalah. “Brilian sekali, kau mematai-mataiku selama ini. Tapi lain kali jangan gunakan pulpen bodoh seperti ini, gampang ketahuan. Lakukan dengan lebih cerdas.” Aku sengaja meniru intonasi dan cara bicara Miss Keriting satu-satunya guru yang cuek mengusir si jenius ini. Ali menelan ludah, patah-patah menerima pulpen itu. Cengengesan. Sepertinya itu adalah ekspresi terbaik rasa bersalah yang dia miliki.
Aku menatap galak, “Nah, sebaiknya kau tahu, jenius, rumahku bukan laboratorium fisika tempat kau bebas bereksperimen, meledakkan apalah, menyelidiki entalah. Sore ini aku akan memeriksa seluruh rumah, kau pasti juga meletakkan sesuatu setelah kemarin jual muka ke Mama dan Seli. Awas saja kalau aku menemukannya.”Aku meninggalkan Ali yang entahlah mau bilang apa. Bergabung dengan kerumunan anak-anak yang hendak menuruni anak tangga. Seli menunggu di lapangan, kami selalu pulang bareng. Dia bertanya kenapa aku lama sekali keluar dari kelasnya. Aku mengangkat bahu, menunjuk langit mendung, lebih baik bergegas mencari angkutan umum yang kosong.
Setiba di rumah, Mama terlihat repot mengangkat jemuran. Gerimis turun saat aku turun dari angkot. Mama menyuruhku membantu, aku mengangguk. Tanpa meletakkan tas sekolah, bantu menggendong sebagian tumpukan pakaian, meletakkannya ke ruang depan. Masih lembab, Mama bilang biar dijemur lagi di halaman belakang yang semi tertutup. “Hallo, Put.” Aku menyapa kucingku yang riang menyambutku di ruang tengah. Kepalanya menyundul-nyundul ke betis. Bulu tebalnya terasa hangat. “Kau sudah makan siang?” Aku bertanya. Si Putih mengeong pelan, manja ku usap-usap kepalanya. Aku teringat sesuatu, menoleh sekitar. Baru saja aku bertanya dalam hati, kemana kucing satunya itu pergi sejak tadi pagi, si Hitam justeru terlihat berjalan pelan menuruni anak tangga. Mata bundarnya menatapku. Aku tidak tahu persis, apakah karena kejadian tadi malam, kali ini aku merasa si Hitam sedang menatapku tajam, bukan tatapan antusias menyambutku pulang seperti enam tahun terakhir. Aku merasa kucing itu tidak sekadar kucing lagi. Dia mengawasiku. Dan lihatlah, si Hitam anggun santai duduk di anak tangga terakhir, kepalanya mendongak, tidak loncat menyambutku seperti biasanya.
“Kau lihat si Hitam di sana, Put?” Aku berbisik pada kucingku. Si Putih balas mengeong pelan. “Kau hari ini bermain dengannya, tidak?” Aku berbisik lagi. Si Putih tetap mengeong seperti biasa. Aku menghela nafas, seandainya aku tahu bahasa kucing aku bisa bertanya pada si Putih, apakah si Hitam sungguhan tidak terlihat. Apakah si Putih selama ini sebenarnya hanya bermain sendirian. Apakah si Putih berteman dengan si Hitam? “Loh kenapa belum berganti seragam, Ra? Ayo, bergegas, seragam kau itu kan juga lembab terkena gerimis. Nanti masuk angin.” Mama yang menggendong sisa jemuran menegurku.
“Iya, Mam.” Aku mengangguk, “Kita ke kamar yuk, Put.” Berbisik ke kucingku, lantas beranjak menaiki anak tangga, melewati si Hitam yang tetap tidak bergerak dari duduknya, hanya melihatku. Kecuali merasa ganjil karena terus diperhatikan si Hitam, sisa hariku berjalan normal. Aku berganti seragam, makan siang, membantu Mama mencuci piring dan peralatan dapur. Lantas bebas sepanjang sore. “Kau sebenarnya mencari apa sih, Ra?” Mama yang sedang menyetrika bingung melihatku mondar-mandir satu jam kemudian.
“Ada yang hilang, Ra?” Mama yang sudah pindah merapikan keping DVD di ruang televisi bertanya untuk kesekian kalinya. Aku mengangkat bahu, “Pulpenku hilang, Ma.”“Pulpen? Segitunya dicari? Kan bisa beli lagi?” Aku nyengir. Namanya juga alasan ngasal, mana sempat kupikirkan baik-baik. Tapi setidaknya Mama tidak bertanya lagi, membiarkanku yang terus mengacak-ngacak rumah. Dua jam tidak kunjung lelah. Aku akhirnya menghembuskan nafas sebal. Puh, tidak ada sesuatu yang ganjil. Si Jenius itu boleh jadi tidak sempat memasang sesuatu, atau dia kali ini memang jenius sekali, meletakkan alat penyadap yang tidak bisa ditemukan. Satu jam lagi berlalu sia-sia, aku menghempaskan badan di kursi kamarku, juga tidak menemukan apapun.
Jam bebasku habis sia-sia. Padahal aku sudah membayangkan menemukan alat penyadap yang besok bisa kulemparkan ke Ali. Aku bergegas mandi sore setelah diingatkan Mama. Lampu jalanan mulai menyala, matahari beranjak tenggelam. Gerimis tetap begitu-begitu saja, tidak menderas, tidak juga reda.
“Papa pulang malam lagi ya, Mam?” Aku bertanya, makan malam, ditemani Mama. “Iya. Tadi siang Papa sudah menelepon. Boleh jadi lebih malam dari kemarin. Pekerjaan Papa di kantor semakin menumpuk.” Mama menghela nafas prihatin. Aku sedikit menyesal bertanya soal Papa, seharusnya aku bisa mencari topik percakapan yang lebih baik, bukan bilang apa saja yang terlintas di kepalaku. Asal komen. “Minggu depan, pas arisan, semua keluarga datang ya, Mam?” Aku kali ini sengaja memilih topik yang pasti membuat Mama lebih tertarik, lebih riang. Mama tersenyum, mengangguk, “Iya, Tantemu bahkan mau menginap semalam.”Ohya?” Aku berseru riang—tuh, kan, bahkan aku sendiri ikut semangat.
“Iya, Tante bilang bakal bawa si Jacko, biar bisa bermain bersama si Putih atau si Hitam.”“Sungguh?”Mataku membesar, “Mama tidak sedang menggoda Ra, kan?”Mama tertawa, mengangguk, itu sungguhan. Jacko itu nama kucing milik Tante. Makan malam selesai setengah jam kemudian, dihabiskan dengan membahas rencana arisan keluarga minggu depan. Di luar hujan mulai turun dengan lebat.
***
Agak ajaib memang hari ini, tumben tidak ada PR yang harus kukerjakan untuk besok. Malas belajar Matematika persiapan ulangan minggu depan, masih lama, nanti-nanti saja, malas membaca novel tebal itu, aku akhirnya hanya bermain dengan si Putih. Tapi itupun tidak lama. Rasanya ganjil sekali melempar gulungan benang wol, lantas si Putih riang menyambarnya, antusias membawanya kembali ke pangkuanku, sementara si Hitam, kucing satunya lagi, duduk di atas kasur, memperhatikan. Tidak tertarik.
Aku melirik kucing itu. Berbisik kepada si Putih yang manja kugendong, bertanya lagi apakah si Putih melihat si Hitam yang duduk mengawasi. Mana ada kucing normal yang tidak tertarik main lempar-lemparan. Bukankah dulu si Hitam senang sekali melakukannya. Atau tidak? Aku menghela nafas, beranjak berdiri, meletakkan si Putih. Baru pukul sembilan, memutuskan tidur lebih awal. Tidak ada hal seru yang bisa kulakukan dengan seekor kucing aneh terus mengawasiku. Aku malas mengenakan sendal, pergi ke kamar mandi, gosok gigi.
Keluar dari kamar mandi, aku benar-benar melupakan sepotong kalimat percakapan tadi malam, tepatnya aku tidak memperhatikan kalau kami ada ‘janji pertemuan’ berikutnya. Aku bersenandung pelan, kembali ke kamar, menutup pintu, menguap, bersiap loncat ke atas kasur, saat telingaku mendengar si Hitam justeru menggeram di atas kasurku. Dan belum genap aku memperhatikan kenapa si Hitam terdengar begitu galak, sosok tinggi itu telah berdiri di dalam cermin.
“Hallo, gadis kecil.” Aku reflek menoleh.
“Kau sepertinya tidak sedang menungguku.” Sosok tinggi kurus itu tersenyum suram. Cerminku terlihat lebih gelap dibanding biasanya. Tidak ada bayangan apapun di dalamnya selain wajah tirus, kuping mengerucut, rambut meranggas, sosok tinggi kurus itu telah kembali, menatapku dengan tatapan berbeda seperti malam sebelumnya. Aku reflek meraih sesuatu. Sial, tidak ada yang bisa kujadikan senjata selain sendal jepit yang kukenakan. Menyesal kenapa meletakkan pemukul bola kasti di dalam lemari.
“Seharusnya kau mulai terbiasa, Nak.” Sosok tinggi kurus itu berkata datar, menatap sendal jepit yang kupegang. Suaranya mengambang di seluruh ruangan meski dia bicara dari dalam cermin dua dimensi, tidak berkurang jelasnya, padahal hujan deras turun di luar. “Bagaimana latihan kau hari ini?” Sosok itu bertanya, langsung ke pokok persoalan. “Latihan apa?” Aku balas bertanya, menatap tidak mengerti ke dalam cermin.
Si Hitam menggeram keras, aku menoleh, kucingku itu loncat ke kursi, tempat tas sekolahku, dengan mulut dan cakar kakinya, si Hitam menarik keluar novel tebal itu, mengeong galak. Menunjukkan novel dengan mulutnya. Aku menelan ludah. Ternyata latihan itu. “Bukankah sudah kukatakan, gadis kecil, kita bisa melakukan ini dengan mudah, atau dengan sulit, tergantung dirimu sendiri.” Sosok tinggi kurus itu menatapku kecewa, “Kau tidak melakukan perintahku. Bahkan kau menganggap ringan perintahku.”Aku reflek mundur satu langkah.
“Kau tahu, kau seharusnya sudah bisa menghilangkan novel itu!” Sosok tinggi itu membentak, cerminku semakin gelap, bahkan aku bisa melihat cermin itu seolah mengkerut oleh amarah. “Eh, aku sudah melakukannya.” Aku menjawab ketus, mekanisme bertahanku muncul, “Bukan salahku kalau novel itu tidak mau menghilang.”“Itu karena kau tidak sungguh-sungguh! Kau pikir ini semua lelucon.” Sosok tinggi kurus tidak mengurangi volume bicaranya. Nafasnya menderu, membuat embun tebal di cermin. “Baik. Dia membutuhkan motivasi untuk melakukannya.” Sosok itu menoleh ke si Hitam, “Kau berikan apa yang dia butuhkan!”
Dan sebelum aku mengerti apa maksud kalimat sosok tinggi kurus di dalam cermin, si Hitam menggeram kencang, loncat ke atas kasur, menyergap si Putih. Gerakannya cepat sekali, bahkan sebelum si Putih sempat bereaksi, dua kaki depan si Hitam sudah mencengkeram leher si Putih. Si Hitam mendesis galak, menatapku. “Inilah motivasinya, gadis kecil.” Sosok tinggi kurus itu menatap tipis, “Akan kuhitung hingga sepuluh. Jika kau tidak berhasil menghilangkan buku tebal itu, maka si Hitam akan merobek kepala kucing kesayangan kau.”
Kilau petir menyambar terang di ujung kalimatnya. Gemeretuk guntur membuat nyilu. Hujan deras terus membungkus kota, aku mematung, bukan karena menyaksikan sosok tinggi kurus itu menatapku begitu marah, atau cerminku yang gelap sempurna, menyisakan sosok itu, tapi karena melihat dua kucingku. Si Putih mengeong lemah, seperti minta tolong, sama sekali tidak bisa bergerak, tubuhnya dikunci oleh si Hitam di atasnya. Mulut si Hitam membuka, memperlihatkan taring panjang, suaranya mendesis mengancam, bulu tebalnya yang lembut itu sekarang berdiri. Aku tidak akan pernah bisa mengenali lagi si Hitam, kucingku itu.
**bersambung
0 komentar:
Post a Comment
Silahkan berkomentar sesuai dengan topik post, komentar yang tidak pantas atau dianggap spam akan segera dihapus atau terjaring oleh spam filter
CC : Author