Selamat datang di Sajak Tere Liye. Situs ini adalah sebuah situs sederhana yang berisi kumpulan sajak, catatan dan kata-kata sehari-hari yang ditulis langsung oleh Darwis Tere Liye. Jadi ayo !!! bacalah sajak, cerpen, catatan, serta puisi yang indah dan menarik dari Tere Liye di sajaktereliye.blogspot.com

Wednesday, March 4, 2015

Bumi : Episode 17 - Catatan Darwis Tere Liye

Aku langsung menuju kelas X.9, memasukkan tas ke dalam laci meja. Sekolah masih lengang. Tidak ada siapa-siapa, tidak ada yang bisa kulakukan kecuali melamun menunggu. Baiklah, aku mengeluarkan novel tebal yang sudah seminggu tidak tamat-tamat kubaca pengarang yang satu ini novelnya semakin tebal saja, menguras uang jatah bulanan dari Mama. Teringat lagi percakapan tadi malam, aku tidak sedang patuh pada sosok tinggi kurus dalam cermin itu, aku belum tahu dia berniat baik atau buruk, tapi kalimat-kalimatnya membuatku penasaran. Apakah aku memang bisa menghilangkan novel tebal ini dan juga benda-benda lain. Menatap konsentrasi novel tebal beberapa detik, menghela nafas. Mengarahkan telunjukku. Bergumam pelan menyuruhnya menghilang. Sedetik. Puh, aku menghembuskan nafas, sama seperti tadi malam, novel itu tetap teronggok bisu di atas meja. Sekali lagi mengulanginya, lebih berkonsentrasi, tetap saja, jangankan hilang seluruhnya, hilang semili pun tidak. Aku melempar tatapan ke luar jendela kelas, lengang, hanya suara petugas kebersihan yang sedang menyapu lapangan dari dedaunan kering.

Berkali-kali mencoba, memperbaiki posisi duduk kalau sampai ada yang mengintip, pasti akan aneh melihatku yang sibuk menunjuk-nunjuk buku tebal. Itu saja yang kulakukan hingga teman-teman mulai berdatangan. Menyapa. Aku mengangguk, tersenyum tipis, memasukkan kembali novel ke dalam tas. Setengah jam berlalu, sekolah ramai oleh dengung suara. Beberapa duduk di dalam kelas, berdiri di lorong, teriakan anak cowok bermain basket atau bola kaki. Lapangan basah, mereka tidak peduli. Lebih seru, lebih ramai tertawa. “Hallo, Ra.” Seli menyapaku. “Hallo, Sel.” Aku balas menyapa. “Kau datang pagi lagi, ya?” Aku mengangguk, sedang bergumam, menghitung satu, dua, tiga, dan persis di hitungan ke tujuh, Seli yang menatapku sambil memasukkan tas ke laci meja berseru, “Eh, Ra? Jerawatmu yang besar itu sudah hilang, ya?”.Aku tertawa, benar kan, tidak akan lebih dari sepuluh hitungan.

“Beneran hilang, Ra. Kok bisa sih?” Saking tertariknya Seli, dia bahkan memegang jidatku, melotot, memeriksa, untung saja tidak ada kaca pembesar, boleh jadi ikut dipakai Seli, “Wah, beneran hilang. Bersih tanpa bekas. Diobatin pakai apa, sih?” Aku tidak menjawab, menyeringai. “Pakai apa sih, Ra? Ayo, jangan rahasia-rahasiaan. Pasti obatnya manjur sekali. Semalaman langsung mulus?” Seli penasaran, memegang lenganku, membujuk, “Ini ngalahin treatment wajah artis-artis Korea, loh, Ra. Tokcer.”

“Nggak diapa-apain.” Aku menggeleng.
“Nggak mungkin.” Bukan Seli kalau dia mudah percaya.
“Benaran nggak diapa-apain. Aku hanya tunjuk jerawatnya, bilang ‘hilanglah’, splash, hilang jerawatnya.” Demi mendengar kebiasaan Seli yang mulai menyebut-nyebut drama afavorit Koreanya, dan setengah jam terakhir bosan menatap novel tebal di atas meja yang tidak kunjung berhasil kuhilangkan, aku jadi menjawab iseng.
“Jangan bergurau, Ra.” Seli melotot ---memangnya aku anak kecil bisa dibohongi, begitu maksud ekspresi wajahnya. Aku tertawa, “Benaran. Memang begitu. Kusuruh hilang.”Setidaknya itu manjur, Seli masih melotot setengah menit, lantas wajahnya berubah menyerah, malas bertanya lagi, “Temani aku ke kantin, yuk. Cari cemilan.” Aku mengangguk, bosan di kelas terus. Kami bergegas keluar dari kelas, menuruni anak tangga, bel masuk tidak lama lagi. Sayangnya, Seli bertabrakan dengan seseorang yang sebaliknya hendak naik.

“Lihat-lihat, dong.” Ali berseru ketus. “Eh, Ali?” Seli mencoba tersenyum, setengah bingung—maksud wajah Seli adalah bukankah kami baru kemarin belajar bareng di rumahku, Ali terlihat rapi nan menyenangkan, kenapa pagi ini kembali terlihat acak-acakan, dan tantrum seperti balita gara-gara senggolan kecil. “Kalau jalan makanya mata jangan ditaruh di pantat, tahu.” Ali melotot menjawab sapaan Seli, lantas berlalu, dia terlihat buru-buru menaiki anak tangga.

“Bukankah, eh?” Seli menatap punggung Ali, menoleh, menatapku. Tidak mengerti. “Makanya, jangan tertipu dengan tampilan. Jelas-jelas anak itu biang masalah. Apanya yanggwi yeo wun. Sekali biang masalah, suka bertengkar, maka itulah sifat aslinya.” Aku mengangkat bahu, tertawa. Aku berjalan lebih dulu, menarik tangan Seli, sebentar lagi bel. “Tapi kemarin, kan?” Seli mensejajari langkahku.

“Kemarin apa? Tampilannya kemarin itu menipu, karena dia lagi ada maunya.” Aku nyengir, menatap kasihan Seli, “Kau apes sekali, Sel.” “Apes apanya?”
“Kau barusan dibilang Ali matanya ditaruh di pantat, kan?”
Seli melotot sebal. Aku tertawa.
***
Setidaknya hingga hampir pulang sekolah, aku (dan Seli) tidak bermasalah dengan Ali. Dia masih sering mengamatiku dari bangkunya, tapi dia tidak tertarik memperhatikan jidatku sudah bersih dari jerawat—sepertinya anak cowok selalu begitu, tidak peduli dengan hal baik dari anak cewek, lebih suka memperhatikan yang buruknya saja.

Pelajaran terakhir adalah bahasa Inggris. Mister Theo menyuruh kami mengeluarkan kertas selembar, ulangan. Aku mengangguk riang, aku menyukai pelajaran ini, tidak masalah walaupun ulangan mendadak. Mister Theo membagikan soal, empat puluh soal isian. Seli di sebelahku mengeluarkan puh pelan, mengeluh. Aku tertawa dalam hati, padahal Seli selalu mengaku fans berat Mister Theo, ternyata itu tidak cukup untuk membuatnya menyukai ulangan mendadak ini.

Yang jadi masalah adalah ketika bel pulang tinggal lima belas menit lagi, Mister Theo di depan mengingatkan selesai tidak selesai, kumpulkan jawaban kalian saat bel, aku meringis, pulpenku habis. Bergegas mengambil pulpen cadangan di dalam tas. Ada dua pulpen yang kukeluarkan. Eh, sedikit bingung kenapa ada pulpen berwarna biru. Bukankah aku tidak pernah punya pulpen seperti ini? Mungkin pulpen Papa yang tidak sengaja kutemukan di mobil atau ruang tamu, tidak apalah, yang penting bisa buat menulis, aku memutuskan menggunakannya, tidak bisa, tidak keluar tintanya.
Aku menggerutu, kenapa aku menyimpan pulpen ini di dalam tas kalau habis tintanya. Hendak menukarnya dengan pulpen cadangan yang lain, tapi gerakanku terhenti. Ada yang aneh dengan pulpen biru ini, aku memperhatikan lebih detail, menyelidik. Pulpen ini terlalu berat dan sepertinya ada sesuatu di dalam. Aku perlahan membuka pulpen itu, yang keluar bukan batang isi pulpen seperti lazimnya, tapi benda kecil, berkelotak pelan menimpa meja. Aku bergumam pelan, ini benda apa. Bentuknya mungil, ada kabel-kabel kecil. Seli di sebelahku ber-ssst menyuruhku diam, dia sudah pusing dengan soal ulangan, merasa terganggu pula dengan kesibukanku. Aku balas ber-ssst menyuruh Seli diam. “What happened, Ra?” Mister Theo menoleh ke mejaku. “Nothing happens, Sir. Jammed my pen.” Aku buru-buru menjawab, menelan ludah.

Mister Theo memastikan sejenak, kembali menatap ke arah lain. Aku mengamati benda itu lamat-lamat, ini apa? Buat apa? Kenapa benda berkabel ini ada di dalam pulpen biru yang rusak? Setengah menit, teringat cerita Seli tentang biang masalah itu yang suka sekali membuat peralatan ‘canggih’, meledakkan laboratorium, aku berseru dalam hati. Aku tahu benda ini, setidaknya aku bisa menebak benda ini untuk apa. Dasar Ali sialan. Tentu saja dia tahu aku kehilangan si Hitam, tahu aku dan Seli mengerjakan PR kemarin sore, karena jenius amatiran itu menyelundupkan pulpen berisi alat penyadap ke dalam tasku. Dia pasti melakukannya beberapa hari lalu, setelah penasaran dengan kejadian dihukum Miss Keriting menunggu di lorong kelas.

Ternyata itu tidak spesial, aku pikir dia tahu dari manalah, dengan cara lebih canggih atau misterius. Hanya karena pulpen biru ini. Aku tersenyum lebar, teringat sesuatu, setidaknya tadi malam tasku tertinggal di ruang televisi, jadi dia tidak bisa menguping percakapanku di kamar dengan sosok dalam cermin. Tapi senyumku segera terlipat, jangan-jangan kemarin sore dia ke rumah, berpakaian rapi, menipu Mama dan Seli, untuk menyelundupkan alat pengintai. Aku menyibak poni di dahi, nanti setiba di rumah akan aku periksa setiap pojok ruangan. Awas saja, tidak akan kubiarkan lagi.
Bel pulang berbunyi nyaring, memutus pikiranku.

“Collect your answer paper, now.” Mister Theo berseru tegas. Aku mengeluh, menyesal telah menghabiskan waktu berhargaku untuk pulpen biru rusak. Bergegas menyelesaikan soal yang tersisa. Teman-teman sekelas lainnya juga ikut bergegas, terutama Seli, dia terlihat panik, menulis secepat tangannya bisa. Sudah seperti cabai keriting bentuk tulisannya.
“Come on, time’s up, students.”
***bersambung

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Bumi : Episode 17 - Catatan Darwis Tere Liye

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar sesuai dengan topik post, komentar yang tidak pantas atau dianggap spam akan segera dihapus atau terjaring oleh spam filter

CC : Author