Selamat datang di Sajak Tere Liye. Situs ini adalah sebuah situs sederhana yang berisi kumpulan sajak, catatan dan kata-kata sehari-hari yang ditulis langsung oleh Darwis Tere Liye. Jadi ayo !!! bacalah sajak, cerpen, catatan, serta puisi yang indah dan menarik dari Tere Liye di sajaktereliye.blogspot.com

Wednesday, March 4, 2015

Bumi : Episode 16 - Catatan Darwis Tere Liye

“Selamat pagi, Ra?” Mama sedang menggoreng sosis saat aku menuruni anak tangga, menyapaku, tertawa kecil, “Wah, ini rekor baru Ra bangun pagi. Jam segini malah sudah siap berangkat sekolah.”
“Pagi, Ma.” Aku menjawab pendek, menarik kursi, meletakkan tas. “Tidur nyenyak, Ra?” Perhatian Mama kembali ke wajan, tidak menunggu jawabanku, “Hujan deras semalaman selalu bikin nyenyak tidur ya.”

Aku menghela nafas pelan, menatap punggung Mama yang asayaik meneruskan menyiapkan sarapan. Sebenarnya aku tidak bisa tidur tadi malam. Siapa yang bisa tidur nyenyak setelah tiba-tiba ada sosok tinggi kurus berdiri di dalam cermin kamar kalian? Bicara panjang lebar tentang hal-hal yang tidak aku mengerti, penuh misteri. Belum lagi si Hitam. Itu yang paling susah membuatku tidur—tidak peduli seberapa manjur suara hujan mampu meninabobokan. Bagaimana kalian akan tidur jika di atas kasur, meringkuk kucing kesayangan kalian, yang ternyata selama ini tidak terlihat oleh siapapun, yang ternyata bisa menembus cermin, dan itu belum cukup, yang ternyata juga memata-matai kalian selama enam tahun terakhir. Itu mimpi buruk yang nyata, meskipun si Hitam sebenarnya terlihat biasa-biasa saja, dia menatapku dengan bola mata bundar bercahaya, manja menempelkan badannya yang berbulu tebal ke betis, meringkuk tidur.

Setengah jam sejak sosok tinggi kurus itu pergi. Situasi ganjil di kamarku masih tersisa pekat, aku menatap si Hitam dengan kepala sesak oleh pikiran. Sikapuku jelas berbeda dengan kalau aku tahu si Hitam minggat memang karena naksir kucing tetangga. Tanganku gemetar berusaha menyentuh kepala si Hitam, kucing itu mengeong pelan, menatapku, sama persis seperti kelakuan kucing kesayanganku selama ini. Aku terdiam, lihatlah si Hitam amat nyata, sama nyatanya dengan si Putih yang sejak tadi terus tidur, tidak merasa terganggu dengan keributan, aku menggigit bibir, bagaimana mungkin si Hitam ‘mahkluk lain’? Bagaimana mungkin matanya yang indah itu ternyata mengawasiku selama ini? Bagaimana mungkin dia kucing paling aneh sedunia, bukan hanya karena tidak ada yang melihatnya, tapi boleh jadi dia juga punya rencana-rencana di kepalanya. Melaporkan kepada dunia lain? “Loh, Ra, kok malah melamun?” Ibu menumpahkan sosis matang ke piring di atas meja, “Pagi-pagi sudah melamun. Itu tidak baik untuk anak gadis.” Aku menggeleng, tersenyum kecut. “Papa semalam baru pulang jam sepuluh. Larut sekali.” Mama memberitahuku—yang aku juga sudah tahu, “Pekerjaan kantor Papa semakin menumpuk. Seperti biasa, sibuk berat.” Hanya itu penjelasan Mama. Aku mengangguk.

“Mama senang, dua hari terakhir Ra selalu siap sekolah sebelum Papa berangkat. Jadi Ra tidak perlu Mama teriakin bergegas bangun.” Mama menatapku, tersenyum, tangannya masih memegang wajan kosong, “Kita semua harus mendukung Papa di masa-masa sibuknya. Mama, juga Ra, ya.”Iya, Mam.” Aku menjawab pendek. “Ra mau sarapan duluan?”. “Nanti saja, Mam. Nunggu Papa turun.”
Mama mengangguk, kembali ke kompor gas, melanjutkan aktivitas masak-memasaknya.

Aku menatap lamat-lamat piring berisi sosis di hadapanku, menghembuskan nafas pelan. Tadi malam, berkali-kali aku menatap si Hitam—aku urung mengelus bulu tebalnya, membiarkan dia meringkuk tanpa diganggu. Berkali-kali menatap cermin besar, memastikan tidak ada siapapun lagi di dalamnya yang tiba-tiba menyapa. Berkali-kali meletakkan telapak tangan di wajah, mengintip dari sela jemari, siapa tahu sosok tinggi kurus itu ada di dalam kamarku, hanya kosong, tetap tidak ada siapa-siapa. Bahkan aku yang bosan tidak bisa tidur-tidur juga, memutuskan beranjak duduk, teringat percakapan dengan sosok itu, menatap novel tebal di atas kasur. Menghela nafas. Konsentrasi, berkali-kali menyuruh novel itu menghilang—lima belas menit berlalu, novel tebal itu tetap teronggok bisu.

Akhirnya aku menarik selimut lagi, berusaha tidur. Hingga jatuh tertidur pukul dua malam. Di luar sana, hujan deras terus menyiram kota. Lampu seluruh kota terlihat kerlap-kerlip oleh tetes air. Hening. Sayaahdu. Hanya irama konstan dari air yang menerpa atap, jalanan, pohon. Aku terbangun mendengar kesibukan Mama di dapur. Melihat jam di dinding, jam lima, rasanya baru sebentar sekali aku tidur. Memutuskan turun dari ranjang, memulai aktivitas pagi. Di luar hujan sudah reda, masih gelap, menyisakan halaman rumput yang basah. Si Putih mengeong riang, menyapa. Aku balas menyapa, “Pagi, Put.” Tapi tidak ada si Hitam, kucingku yang satunya itu—jika aku masih bisa menyebutnya ‘kucingku’—tidak terlihat di kamarku. Aku merapikan poni rambut yang berantakan di dahi, menatap cermin, tidak ada hal yang ganjil di dalamnya. Memeriksa kamar, si Hitam tetap tidak kelihatan. Aku menggaruk rambut, sebaiknya aku mandi dan bersiap berangkat sekolah.
“Eh, Ra? Jerawatmu sudah hilang, ya?” Seruan Mama sedikit mengagetkan.

Aku mendongak, entah sejak kapan, Mama sudah berdiri di hadapanku, tangannya memegang wajan kosong yang habis menggoreng telur dadar. Aku tadi pasti lagi-lagi melamun. “Wah, benar-benar hilang, ya? Ra pencet? Tapi kenapa tidak ada bekasnya? Ra obatin dengan apa?” Mama tertarik ingin tahu. “Nggak tahu, Mam. Hilang begitu saja.”

“Hilang begitu saja?” Mama tertawa antusias, “Wah, ini hebat, Ra. Hanya satu malam jerawat sebesar itu sembuh. Ra kasih obat apa, sih? Kita bisa buka klinik khusus jerawat, loh. Mahal bayarannya, nanti Mama suruh Tante-mu bantuin cari modal, dia relasinya kan luas.” Aku tersenyum kecut menatap Mama—yang biasa berlebihan kalau sedang semagat. Andaikata Mama tahu kalau jerawatku itu memang benaran hilang begitu saja saat aku suruh menghilang, Mama boleh jadi berteriak kencang, panik. Mama tidak pernah suka cerita horor, kejadian penuh misteri, dan sejenisnya.

“Pagi, Ra, Mam.” Papa ikut bergabung, menyapa, menghentikan kalimat rencana-rencana Mama tentang klinik jerawat, “Ternyata Papa terakhir yang bergabung ke meja makan. Padahal tadi Papa sudah mandi ngebut sekali, loh.”Aku dan Mama menoleh. Papa sudah rapi. “Kalian sedang membicarakan apa?” “Jerawat, Ra, Pa.” Mama tertawa. “Ohya, Ra jerawatan lagi? Sebarap besar?” Papa ikut tertawa.

Sarapan segera berlangsung dengan trending topic: jerawatku. Sempat diseling Papa bertanya soal mesin cuci baru yang diganti, Mama bilang sejauh ini penggantinya tidak bermasalah. Mama juga sempat bilang tentang rencana arisan keluarga minggu depan di rumah. Papa diam sejenak, mengangguk, “Semoga minggu depan Papa sudah tidak terlalu sibuk lagi di kantor, Mam, jadi bisa membantu.” Melirikku sekilas. Aku tidak ikut berkomentar, aku tahu—maksud kalimat Papa sebenarnya adalah semoga masalah mesin pencacah raksasa di pabrik sudah beres.

Lima belas menit sarapan usai, aku berpamitan dengan Mama, duduk rapi di jok belakang, Papa mengemudikan mobil melewati jalanan yang masih sepi. Baru pukul enam, itu berarti jangan-jangan aku orang pertama lagi yang tiba di sekolah. “Bagaimana sekolahnya, Ra?” Papa bertanya, di depan sedang lampu merah.

“Seperti biasa, Pa.” Aku menjawab pendek. Menatap langit mendung, ribuan burung layang-layang terbang memenuhi atas kota, sepertinya selama ini aku mengabaikan pemandangan itu. “Kau tidak punya sesuatu yang seru hendak diceritakan ke Papa, Ra.” Papa menoleh, mengedipkan mata, timer lampu merah masih lama, “Selain soal jerawat?”

“Eh, tidak ada, Pa.” Aku menggeleng. “Sungguhan tidak ada?” Papa tetap antusias. Aku menggeleng lagi. Aku tahu, Papa sedang mencari topik pembicaraan, lantas memberikan nasehat yang nyambung dengan topik itu, menasehati putri remajanya. Papa kembali memperhatikan ke depan, aku menatap jalanan dari balik jendela. Teringat percakapan dengan sosok tinggi kurus tadi malam. Itu benar, bertahun-tahun aku mampu menyimpan rahasia itu sendirian. Tidak bocor sedikit pun, tidak tampias satu tetes pun. Papa dan Mama selalu punya penjelasan sederhana setiap melihat hal ganjil di rumah kami. Aku yang tiba-tiba muncul, aku yang tiba-tiba tidak ada di sekitar mereka, bahkan tentang kucingku, mereka selalu bilang si Hitam atau si Putih, bukan si Hitam dan si Putih.

“Papa minta maaf ya, Ra.”Eh? Minta maaf apa? Aku menoleh ke depan. Lampu merah berikutnya. “Hari-hari ini Papa jadi jarang memperhatikan Ra, mengajak ngobrol. Tidak ada makan malam bersama. Sarapan juga serba cepat. Papa cemas boleh jadi sabtu-minggu lusa Papa juga harus lembur di kantor. Rencana weekend kita batal.”Aku mengangguk, soal itu ternyata, “Tidak apa kok, Pa. Ra paham. Kan, demi memenangkan hati pemilik perusahaan.”Papa ikut tertawa pelan. “Kau selalu saja pintar menjawab kalimat orang lain, Ra.”

Lampu hijau, iringan kendaraan bergerak maju. Lima belas menit kemudian tiba di gerbang sekolah, aku mengangkat tas, membuka pintu, berseru, berpamitan. Mobil Papa hilang di kelokan jalan. Aku menatap lapangan sekolah yang lengang. Langit semakin mendung, ribuan burung layang-layang itu masih ada di atas gedung-gedung kota, terbang menari menanti hujan. Aku menghela nafas, berusaha riang melangkah masuk ke halaman sekolah, setidaknya, dengan segala kejadian aneh tadi malam, hari ini aku tidak perlu menutupi jidatku. Jerawatku sudah hilang.
*bersambung

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Bumi : Episode 16 - Catatan Darwis Tere Liye

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar sesuai dengan topik post, komentar yang tidak pantas atau dianggap spam akan segera dihapus atau terjaring oleh spam filter

CC : Author