Selamat datang di Sajak Tere Liye. Situs ini adalah sebuah situs sederhana yang berisi kumpulan sajak, catatan dan kata-kata sehari-hari yang ditulis langsung oleh Darwis Tere Liye. Jadi ayo !!! bacalah sajak, cerpen, catatan, serta puisi yang indah dan menarik dari Tere Liye di sajaktereliye.blogspot.com

Wednesday, March 4, 2015

Bumi : Episode 15 - Catatan Darwis Tere Liye

“Siapa di situ?” Aku berseru dengan suara bergetar bukan karena takut, lebih karena kaget setengah mati melihat ada sosok yang tiba-tiba berdiri di dalam cermin besar. Ini bukan imajinasiku, lihatlah, aku berusaha mengendalikan dengus nafas, jantungku berdetak kencang, sosok itu benar-benar ada di dalam cermin besar, tanpa menyisakan bayangan apapun selain tubuhnya. Perawakannya tinggi, kurus, wajahnya tirus, telinganya mengerucut, rambutnya meranggas, dengan bola mata hitam pekat. Dia mengenakan, aku tidak tahu, apakah itu pakaian atau bukan, kain itu seolah melekat ke tubuhnya, berwarna gelap. Sejenak tersengal menatap sosok itu, aku lompat, tanganku reflek menyambar apa saja di atas kasur, mencari senjata, mengeluh, hanya ada novel tebal. Sementar suara hujan deras di luar terus buncah, membuat keributan di kamar tidak terdengar hingga ruang tengah, tempat Mama sedang menonton televisi menunggu Papa pulang. Kilau petir dan gemeretuk guntur susul menyusul. Nafasku menderu kencang.

“Siapa kau?” Aku berseru, suaraku serak. “Aku siapa?” Suara sosok itu terdengar seperti mengambang di langit-langit kamar, seolah dia bicara dari sisi kamar mana pun, bukan dari dalam cermin, “Kalau kau mau, kau bisa memanggilku ‘Teman’, Nak.”Aku menggeleng, beringsut menjaga jarak, mataku menyelidik setiap kemungkinan, tanganku bergetar mencengkeram novel. Kalau sosok ganjil ini tiba-tiba menyerangku, akan kupecahkan cerminnya dengan novel tebal di tanganku—dan semoga dia tidak justeru keluar dari cemin pecah itu, malah bisa berdiri nyata di tengah kamarku. “Kau mau apa? Kenapa kau ada di dalam cerminku?” Aku berseru, bertanya, terus berhitung dengan posisiku.

Sosok itu tidak langsung menjawab. Diam sejenak lima belas detik. Kucingku si Putih meringkuk tidur, tidak terganggu dengan segala keributan. Menyisakan aku dan sosok tinggi kurus di dalam cermin saling tatap dengan pikiran masing-masing. “Ini menarik, Nak.” Sosok itu akhirnya bersuara setelah menatapku lamat-lamat, “Kebanyakan orang dewasa menjerit ketakutan melihat cermin di hadapannya yang tiba-tiba berisi bayangan orang lain, bahkan di tempat keramaian dan siang hari sekalipun. Ini menarik sekali, rasa penasaran yang kau miliki ternyata lebih besar dibanding rasa takut. Rasa ingin tahu yang kau miliki, bahkan lebih besar dibanding memikirkan resikonya. Aku siapa? Kau selalu bisa memanggilku ‘Teman’. Apa mauku? Apalagi selain menemuimu.”Aku menggeleng, memutuskan tidak mudah percaya, berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang mencurigakan, tanganku semakin dekat untuk melemparkan novel tebal ke arah cermin.

Sosok tinggi kurus itu mengangguk, “Baik, kau benar, aku mungkin bukan teman. Tidak ada teman yang datang lewat cermin, bukan? Membuat semua akal sehat terbalik. Siapa pula yang akan riang gembira saat sedang menatap cermin tiba-tiba ada sosok lain di dalamnya, sekalipun itu memang teman baik yang sudah dikenal. Sayangnya, kita tidak leluasa bertemu. Belajar dari pengalaman dua hari lalu, kita tidak bisa berharap kau akan bersedia menutupkan telapak tangan ke wajah sekarang, bukan? Mengintip dari sela jari agar aku bisa terlihat berdiri di kamar ini. Kau pasti tidak mau melakukannya.”Angin kencang yang menyertai hujan di luar membuat tetes air menerpa jendela kaca, aku tetap berusaha konsentrasi menatap sosok tinggi kurus di dalam cermin. “Sayangnya ini pertama kali kita berbicara. Kau belum siap mendengar penjelasan, gadis kecil, sebesar apapun bakat yang kau miliki sekarang, kau belum siap. Jadi aku tidak akan lama. Dua hari lalu, amat mengejutkan ternyata kau bisa melihatku, tapi kupikir itu kebetulan. Malam ini, kau mampu melakukan hal yang lebih menarik, berhasil menghilangkan sebutir jerawat di wajah, karena itu aku memutuskan sudah saatnya menyapa.”

Sosok tinggi kurus itu diam sejenak, menghembuskan nafas, udara dingin, dia sungguh nyata, lihatlah, cerminku berembun oleh nafasnya yang hangat. “Kau pasti punya banyak pertanyaan, Nak.” Sosok itu menghapus embun di cermin dengan jari-jarinya yang kurus dan panjang, “Tapi tidak malam ini aku akan menjawabnya. Aku pernah melakukan kesalahan dengan terlalu banyak menjelaskan.” Gerakan tangannya berhenti, mata hitamnya menatap tajam ke arah lain.

Aku tahu apa yang sosok di dalam cermin dengar, aku juga mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah. Papa sudah pulang. “Ingat baik-baik yang akan kusampaikan, gadis kecil.” Dia menatapku tajam, “Peraturan pertama, jangan pernah mempercayai siapapun. Teman dekat, kerabat, orang tua, siapapun. Aku tidak akan mengajarimu agar tidak bercerita ke orang lain, lima belas tahun kau berhasil menyimpan rahasia sendirian, itu tidak pernah terjadi sebelumnya, jadi kita hilangkan saja peraturan yang kedua.” Sosok tinggi itu diam sejenak, kembali menatap tajam ke arah lain.

Suara percakapan Papa dan Mama di ruang tengah terdengar sayup-sayup di antara suara hujan. Papa menanyakan apakah aku sudah tidur atau belum. “Ingat baik-baik dua peraturan tersebut. Sekali kau bercerita ke orang lain, kau bisa membuat semua menjadi di luar kendali. Semua bakat besar itu akan berubah melawan dirimu sendiri, dan membahayakan orang-orang yang kau sayangi.” Mata hitam itu menyapu seluruh tubuhku.

Aku menelan ludah, tidak semua kalimat sosok di dalam cermin itu bisa aku mengerti, jemariku semakin bergetar mencengkeram novel tebal, “Apa yang kau inginkan dariku?” Sosok tinggi kurus itu mengangguk, “Kau memiliki bakat hebat, Nak. Kau tidak hanya bisa menutupkan kedua belah telapak tangan, menghilang. Kau bisa melakukan lebih dari sekadar mengintip orang dari sela jari. Kita akan segera melihatnya, apakah hanya kebetulan kau bisa menghilangkan jerawat, atau lebih dari itu. Buku tebal yang kau pegang, itu tugas pertama kau, menghilangkannya dalam waktu dua puluh empat jam ke depan. Aku akan kembali besok malam, memastikan kau mengerjakan pekerjaan itu sungguh-sungguh.” Sosok di dalam cermin lantas perlahan menyingkap pakaiannya—ternyata itu tidak menempel ke kulit, pakaian di pinggangnya longgar dan menjuntai, dan entah dari mana datangnya, dia mengeluarkan seekor kucing berbulu tebal.

Aku hampir berseru tertahan, itu si Hitam. Sosok tinggi kurus itu tersenyum tipis, jarinya yang panjang mengelus kepala kucingku, “Sejak usia sembilan tahun kau telah diawasi, gadis kecil. Itu cara terbaik untuk memastikan kau tidak bersentuhan dengan sisi lain, hingga dua hari lalu, keberadaanmu diketahui. Kau bisa membuat pekerjaan ini menjadi mudah atau menjadi sulit, tergantung diri kau sendiri. Camkan baik-baik, kau tidak pernah dimiliki dunia ini, gadis kecil, bahkan sejak lahir. Kau dimiliki dunia lain. Selalu ingat itu.”Aku tidak mendengarkan kalimat berikutnya dari sosok itu dengan baik, aku sedang berseru tanpa suara, astaga, aku sungguh tidak percaya apa yang kulihat. Itu kucingku, si Hitam, berada di pangkuan sosok yang berada dalam cermin. “Nah, saatnya mulai berlatih, Nak.” Sosok tinggi kurus itu menepuk pelan kucing di pangkuannya, berbisik, “Kau temani dia.” Dan dengan suara meong yang amat kukenal, si Hitam lompat dari tangannya, menembus cermin, splash, mendarat di meja belajarku. Aku tertegun. Si Hitam sudah loncat ke lantai, langsung menuju kakiku, seperti biasa, hendak antusias menyundul-nyundulkan kepalanya ke betis.

Aku terkesiap. Entah harus melakukan apa. Kakiku bergetar saat disentuh bulu lembut si Hitam. Apa yang barusaja kulihat? Kucingku menembus cermin? Aku menatap si Hitam yang manja berada di antara kakiku. Apakah kucingku ini nyata atau bukan? Dan apa yang sosok tinggi kurus itu katakan? Aku telah diawasi sejak lama. Kilau petir menyambar terang, aku mengangkat kepala, menatap ke depan, cermin itu hanya memantulkan bayanganku sekarang, kosong, sosok tinggi kurus itu telah pergi.
*bersambung

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Bumi : Episode 15 - Catatan Darwis Tere Liye

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar sesuai dengan topik post, komentar yang tidak pantas atau dianggap spam akan segera dihapus atau terjaring oleh spam filter

CC : Author