Selamat datang di Sajak Tere Liye. Situs ini adalah sebuah situs sederhana yang berisi kumpulan sajak, catatan dan kata-kata sehari-hari yang ditulis langsung oleh Darwis Tere Liye. Jadi ayo !!! bacalah sajak, cerpen, catatan, serta puisi yang indah dan menarik dari Tere Liye di sajaktereliye.blogspot.com

Wednesday, March 4, 2015

Bumi : Episode 14 - Catatan Darwis Tere Liye

Ini akan jadi momen paling ganjil sejak aku remaja, lihatlah, aku melotot, hendak mengusir Ali dari halaman rumah, di sampingku Seli bengong melihat penampilan Ali yang berubah, susah membedakannya dengan pemain drama Korea favoritnya, sementara si biang masalah itu, tersenyum lebar seolah tidak ada masalah sama sekali, seolah aku dan Seli memang habis bercakap sebal karena dia tidak kunjung datang untuk belajar bareng. “Ra, Seli, kenapa kalian malah bengong di situ?” Mama yang tidak memperhatikan, terlanjur masuk ke ruang tamu, menoleh, kepalanya nongol dari bingkai pintu, “Ayo, ajak temanmu masuk. Ayo, Nak Ali, masuk”. Dan sebelum aku bereaksi atas tawaran Mama—misalnya dengan mencak-mencak mengusir Ali, si biang masalah itu mengangguk amat sopan, (pura-pura) malu melangkah ke teras.

“Anggap saja rumah sendiri, ya.” Mama tersenyum. “Iya, Tante.” Ali mengangguk lagi. Aku benar-benar kehabisan kata. Aduh, kenapa Mama ramah sekali dengan biang masalah itu. Aku menyikut Seli, menyadarkan ekspresi wajah Seli yang berlebihan, mengeluh kenapa Seli juga ikut tertipu dengan tampilan baru Ali. Bergegas ikut melangkah masuk ke ruang tamu.

“Nak Ali mau minum apa?”
“Nggak usah, Tante. Nanti merepotkan.”
“Tentu saja tidak. Sebentar ya, Tante siapkan di dapur. Tunggu sebentar, ya.”Belum sempurna hilang punggung Mama dari bingkai pintu, aku sudah loncat, mencengkeram lengan baju Ali, “Kau, kenapa kau datang, hah? Tidak ada yang mengajakmu belajar bareng?”. Si biang masalah itu hanya nyengir, “Aku datang baik-baik loh, Ra.”
“Bohong. Kau pasti ada maunya.” Aku berseru ketus.
“Eh, ya tentu saja ada maunya, Ra.” Ali menatapku, tersenyum, “Maunya adalah belajar bareng. Minta diajarin mengarang jenis persuasif. Kau kan yang paling pintar soal bahasa.”
“Bohong. Kau pasti sedang menyelidiki sesuatu.”
Ali mengangkat bahu, wajahnya seolah bingung, menyelidiki apanya? Menoleh ke Seli—yang serius menonton kami bertengkar, jangan-jangan Seli berpikir ada adegan drama Korea live di depannya. Aku menelan ludah, cengkeraman tanganku mengendur. Aku tidak mungkin menuduh Ali sengaja datang untuk menyelidiki apakah aku bisa menghilang atau tidak. Ada Seli di ruang tamu, urusan tambah kapiran.

“Karangan kau sudah berapa kata, Sel?” Mengabaikanku, Ali beranjak mendekati Seli, “Boleh aku lihat,” Menunjuk buku PR Seli. “Eh, silahkan.” Seli nyengir, “Tapi nggak bagus, kok, baru tiga paragraf".Aku menepuk dahi, nah, sejak kapan pula Seli jadi ikutan ramah dengan Ali? Bukannya kemarin Seli marah-marah karena ditabrak Ali di anak tangga?
“Wah, ini bagus sekali, Sel.” Ali membaca sejenak.
“Oh ya?”

Aku menyikut lengan Seli, mengingatkan dia sedang bercakap-cakap dengan siapa. “Sebenarnya bagusan karangan punya Ra. Tadi aku juga dikasih ide tulisan sama Ra.” Seli tidak merasa aku menyikutnya, menunjuk buku PR milikku di ujung meja. “Boleh aku lihat karangan kau, Ra.” Ali menoleh padaku. Enak saja. Tidak boleh. Aku bergegas hendak menyambar buku PR-ku. “Nah, satu gelas jus buah tiba.” Mama lebih dulu masuk ke ruang tamu, menghentikan gerakan tanganku, “Silahkan, Ali. Jangan malu-malu.”

“Terima kasih, Tante.” Ali menerima minuman sambil tersenyum santun. “Ra tidak pernah cerita kalau punya teman laki-laki di sekolah.” Mama duduk sebentar, bergabung, sepertinya akan ikut mengerjakan PR—tepatnya Mama sengaja menggodaku. “Mereka berdua tidak temanan, Tante.” Seli yang menjawab, tertawa. “Tidak temanan?” Mama menatapku dan Ali bergantian. “Di sekolahan mereka lebih banyak bertengkar". “Oh iya?” Mama ikut tertawa.

Sore itu berakhir menyebalkan. Selama satu jam kemudian aku terpaksa mengalah membiarkan Ali mengeluarkan buku dari tasnya, ikut mengerjakan PR bahasa di ruang tamu. Sebenarnya, terlepas dari mendadaknya, tidak ada yang aneh dari kedatangan Ali, dia sungguh-sungguh mengerjakan PR mengarang. Seli membantu menjelaskan mencari ide tulisan—seperti yang aku jelaskan kepada Seli. Mengarang dengan serius. Ali sempat minta ijin ke toilet setengah jam kemudian, karena Mama lagi memakai kamar mandi bawah, aku ketus menyuruhnya naik ke lantai atas, ada toilet di sebelah kamarku.

“Gwi yeo wun.” Seli berbisik, saat kami tinggal berdua. Apanya yang yeo wun, yeo wun? Aku sebal menatap Seli—sejak kedatangan Ali, aku sebal dengan siapa saja. “Benar kan yang kubilang, Ra.” Seli nyengir, matanya berkerjap-kerjap, “Ali itu aslinya cute,gwi yeo wun. Dengan pakaian rapi, rambut disisir lurus, eh—“. “Kau mau menyelesaikan PR atau tidak? Sudah hampir jam lima tahu.”
“Eh, iya-iya, ini juga lagi diselesaikan, Ra.” Seli kembali ke buku, “Kau kenapa pula sensitif sekali, jadi mudah marah.”

Pukul setengah enam, Ali dan Seli pamit. Mama mengantar ke halaman, bilang hati-hati di jalan. Aku masuk ke rumah setelah mereka naik angkutan umum, membereskan piring dan gelas. “Ternyata.” Wajah Mama terlihat menahan tawa, melangkah ke dapur. Kalau Mama mau menggodaku, tidak lucu. Aku cemberut galak. “Ternyata karena itu Ra malu punya jerawat di jidat.” Mama tetap tertawa, “Anaknya tampan dan sopan sekali loh, Ra. Pantas saja.” Aku hampir menjatuhkan piring. Pantas apanya?
***
Sore berlalu dengan cepat. Gerimis turun membungkus kota saat lampu mulai dinyalakan satu persatu. Awan hitam bergelung cepat memenuhi setiap jengkal langit. Kilau tajam petir dan suara gemeretuk guntur menghias awal malam. Pukul tujuh, aku makan malam sesuai jadwal, Mama menemaniku—hanya menemani, “Mama makannya nunggu Papa pulang, Ra.” Aku mengangguk, mengerti.

Pukul delapan, gerimis berubah menjadi hujan deras. Aku duduk di ruang keluarga, malas belajar, daripada di kamar sibuk memencet jerawat, memutuskan membaca novel. Menemani Mama yang menonton televisi. Sialnya, tetap saja aku reflek memegang-megang jerawat sambil membaca. Urusan ini selalu begitu, semakin berusaha dilupakan, semakin sering aku ingat, mengeluh dalam hati. Hampir bertanya untuk kesekian kali kepada Mama, apa obat mujarab jerawat, tapi urung, nanti Mama jadi punya amunisi kembali menggodaku.
“Mam, Papa sudah telepon lagi atau belum?”
“Sudah.” Mama menjawab pendek.
“Papa bilang pulang jam berapa?” Aku memperbaiki posisi duduk, membiarkan si Putih meringkuk manja di ujung kakiku. Bulu tebalnya terasa hangat.
“Sampai urusan di kantor selesai, Ra. Belum tahu persisnya.” Mama menghela nafas tipis, berusaha terdengar biasa-biasa saja. Aku manggut-manggut, tidak bertanya lagi, kembali ke novel, sambil tangan kiriku juga kembali memegang-megang jidat.

Pukul sembilan, hujan deras mereda. Mama menyuruhku duluan tidur. Aku mengangguk, sudah waktuku masuk kamar, baiklah, menutup novel yang kubaca. Si Putih ikut bangun, berlari-lari menaiki anak tangga. Meski sudah masuk kamar, aku tidak bisa segera tidur seperti malam sebelumnya. Banyak yang kupikirkan. Mengintip tirai jendela, menatap kerlap-kerlip lampu di antara jutaan tetes air. Menghela nafas, semoga Papa baik-baik saja di kantor, urusan hari ini lebih mudah. Reflek memegang jidatku.

Si Putih mengeong, dia naik ke atas tempat tidur. Aku menoleh, “Kau tidur duluan saja, Put. Aku belum mengantuk.” Kembali mengintip sela-sela tirai jendela, semoga si Hitam, dimanapun dia minggat sekarang, juga baik-baik saja. Hujan deras seperti ini, semoga dia menemukan loteng kering untuk tidur. Sudah dua hari kucingku itu tidak pulang. Aku reflek memegang jidatku. Aku juga memeriksa buku PR Matematika dari Miss Keriting. Duduk di atas kasur. Lima menit sibuk membolak-balik halaman. Tidak ada yang istimewa, hanya buku PR-ku seperti biasa. Hujan di luar semakin deras.

Aku beranjak melangkah malas duduk ke kursi belajar, menatap cermin besar, memperhatikan jerawatku. Jerawatku besar sekali, merah, dengan bintik putih tipis. Mematut-matut beberapa menit, aku akhirnya gemas memencetnya. Tidak meletus, hanya menyisakan sakit, dan semakin merah sekitarnya. Aku mengeluh dalam hati, menyesal sudah memencetnya barusan. Pukul sepuluh, langit gelap kembali menumpahkan hujan. Lebih deras dari sebelumnya. Kilau petir membuat berkas cahaya di dalam kamar, guntur terdengar menggelegar. Aku masih termangu menatap jidatku, sudah tiga kali memencet jerawatku, menyesal, dipencet lagi, menyesal lagi. Begitu-begitu saja, tambah gregetan.

Kenapa pula jerawat ini datang di waktu yang tidak tepat? Susah sekali membuatnya meletus. Aku menatap cermin dengan kesal. Kenapa aku tidak bisa membuatnya menghilang seperti saat aku membuat tubuhku menghilang dengan meletakkan telapak tangan di wajah. Telunjukku gregetan terus menekan-nekan. Atau aku bisa membuatnya menghilang seperti itu? Menelan ludah? Kenapa tidak? Apa susahnya membuat jerawat batu ini hilang? Jangan-jangan aku bisa menyuruhnya menghilang. Telunjukku terangkat, sedikit bergetar menunjuk jerawat itu. Saat telunjukku terarah sempurna ke jerawat, bergumam, ‘menghilanglah’, kilau petir menyambar begitu terang di luar kelaziman. Suara guntur bahkan terdengar lebih cepat dari biasanya, berdentum kencang. Splash. Aku hampir terpental dari kursi, menutup mulut karena hampir berseru. Lihatlah! Jerawat di jidatku sungguhan hilang.

Sedikit gemetar memastikan, berdiri, mendekatkan wajah ke cermin. Benar-benar hilang. Aku hampir bersorak senang. “Hallo gadis kecil,” Sosok tinggi kurus itu telah berdiri di dalam cermin, menatapku lamat-lamat dengan mata hitam mempesonanya, kali ini aku benar-benar terjatuh dari kursi. Kaget. Apa yang barusan kulihat? Sosok itu? Bergegas berdiri, reflek menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa berdiri di dalam kamarku. Kembali menoleh ke cermin, sosok tinggi kurus itu masih ada di sana, tersenyum, matanya menatap mempesona. “Kau sepertinya baru saja berhasil menghilangkan sebuah jerawat, Nak. Selamat.”
**bersambung

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Bumi : Episode 14 - Catatan Darwis Tere Liye

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar sesuai dengan topik post, komentar yang tidak pantas atau dianggap spam akan segera dihapus atau terjaring oleh spam filter

CC : Author