Selamat datang di Sajak Tere Liye. Situs ini adalah sebuah situs sederhana yang berisi kumpulan sajak, catatan dan kata-kata sehari-hari yang ditulis langsung oleh Darwis Tere Liye. Jadi ayo !!! bacalah sajak, cerpen, catatan, serta puisi yang indah dan menarik dari Tere Liye di sajaktereliye.blogspot.com

Friday, February 27, 2015

"Kami" - Sajak Darwis Tere Liye

Sajak "Kami"
Dengan ijin Allah, 
Inilah yang membuat Anda menjadi Presiden. 
Kami. 
Rakyat kecil, yang bagai lautan semut.
Maka, balaslah cinta kami dengan sesungguhnya. 
Tunduk dan patuhlah kepada kami.
Sekali sumpah itu diucapkan.
Maka Anda adalah petugas rakyat, bukan lagi staf partai.
Inilah yang membuat Anda menjadi Presiden.
Partai akan tumbuh, hilang berganti.
Dilupakan, tiada yang ingat.
Tapi Kami.
Rakyat kecil, yang bagai lautan semut.
Akan tetap di sini.
Mencintai pemimpin manapun yang membalas cinta kami.
Mendukung dengan segenap hati.
Bahkan yang benci dengan Anda pun
Sekali Anda tunduk pada rakyat, akan mencintai
Jangan cemas Anda tiada teman
Jangan takut dikepung banyak musuh.
Karena kami.
Ada di sini.
Lautan semut.
*Tere Liye

Kita tidak usah jadi pengendali udara, pengendali air atau pengendali api. Kita cukup jadi pengendali hati saja.
Itu sudah cukup sakti.
*Tere Liye

Surat Permintaan Maaf
     Saya baru menyadari, tadi malam, saat melepas postingan tentang kacau balau situasi KPK, ada yang tersinggung sekali kalau saya memanggil presiden dengan menyebut namanya langsung, Jok atau Jokowi. Menuduh saya tidak sopan dengan orang tua.
Saya benar-benar minta maaf. Karena saya baru tahu, sesuai Surat Edaran Menteri Dalam Negeri, tanggal 26 Januari 2015, bahwa dalam setiap acara formal dan kenegaraan, presiden harus dipanggil: YANG TERHORMAT, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, BAPAK JOKOWI. (huruf bold sesuai surat edaran tersebut).
     
Sekali lagi saya minta maaf, saya tidak tahu kalau facebook ini termasuk kategori acara formal dan kenegaraan. Pun saya baru tahu, menghormati orang itu ternyata lebih dilihat dari prosedural, bukan substansi. Karena, kalau menurut niat saya, ketika saya melepaskan postingan tentang KPK, Polisi, Yang Terhormat Presiden Republik Indonesia Bapak Jokowi, dsbgnya, itu karena saya sedang hormat dan sayang sekali dengan mereka. Jika saya sudah tidak sayang, satu kata pun saya tidak akan lagi membahas mereka. Bodo amat, peduli setan. Bukan urusan saya lagi. Ternyata saya keliru, secara prosedural itu dianggap menghina. Saya lupa, rezim telah berganti, beda seperti dulu, ketika page ini bisa bebas menulis SBY atau Bambang.
Semoga surat permintaan maaf ini diterima, dan kasus ini tidak perlu dibawa ke Bareskrim.
Salam damai.
*Tere Liye, penulis novel "Negeri Para Bedebah"

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : "Kami" - Sajak Darwis Tere Liye

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar sesuai dengan topik post, komentar yang tidak pantas atau dianggap spam akan segera dihapus atau terjaring oleh spam filter

CC : Author