Selamat datang di Sajak Tere Liye. Situs ini adalah sebuah situs sederhana yang berisi kumpulan sajak, catatan dan kata-kata sehari-hari yang ditulis langsung oleh Darwis Tere Liye. Jadi ayo !!! bacalah sajak, cerpen, catatan, serta puisi yang indah dan menarik dari Tere Liye di sajaktereliye.blogspot.com

Wednesday, February 25, 2015

Jangan Naif - Catatan Darwis Tere Liye

Menyusul keputusan praperailan yang menghapus status tersangka calon Kapolri BG, Mantan Presiden SBY, merilis doa di twitternya, dengan pengikut 6,8 juta orang lebih, banyak orang tahu doa SBY ini, tapi akan saya tuliskan lagi di sini:

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Pemimpin, bangsa dan negara kami tengah Engkau uji sekarang ini. Tolonglah kami. Ya Allah, beri pencerahan batin & kekuatan akal sehat kpd para elite & pemimpin bangsa, agar dpt mengambil pilihan yg tepat & bijak. Ya Allah, kami malu mengatakan, di balik prahara ini, ternyata banyak kisah & drama yg berkaitan dgn nafsu utk meraih kekuasaan. Tak semua cerita di balik layar itu kami ketahui. Tetapi Engkau Maha Tahu. Karenanya, setelah Kau berikan pelajaran, tolonglah kami... dstnya

Sebagian orang like doa ini, sebagian tidak suka, dengan komen masing2. Frankly speaking, saya juga tidak suka orang berdoa di media sosial. Tapi ada substansi menarik dari postingan SBY ini, selain doa itu sendiri. Apa? Bahwa ada sesuatu yang serius sekali dengan rezim berkuasa sekarang: ternyata banyak kisah dan drama yang berkaitan dgn nafsu untuk meraih kekuasaan. Apakah SBY sedang bergurau? Sedang mengarang seperti Tere Liye yang memang tukang fiksi? Saya tidak tahu. Tapi jangan lupakan, SBY itu mantan presiden, dia masih punya orang di mana-mana, sumber informasinya akurat, bukan ecek-ecek.

Hari ini, Polda Sulselbar resmi menyatakan: Abraham Samad dijadikan tersangka kasus pemalsuan dokumen Feriyani Lim, karena si FL ini namanya ada di KK Abraham Samad, dan kemudian membuat paspor dll atas hal itu. Belum lagi kasus pertemuan soal cawapres, foto2 dengan wanita. Di sisi lain, Bambang Widjojanto, sudah duluan dijadikan tersangka dalam kasus kesaksian palsu. Juga petinggi KPK lainnya, sudah masuk dalam antrian kasus2 lainnya. Perang antara KPK dan Polri masuk tahapan baru.

         
Sekarang mari kita bandingkan kasusnya, si BG (calon kapolri) itu, tersangka kasus dugaan transaksi uang haram senilai 50 Milyar lebih. Rekening gendut sang jenderal. Hiruk pikuk semua orang, bergaya sekali pengacara dalam pra-peradilan, hingga lupa substansi paling penting: kita sedang memerangi penegak hukum (siapapun itu, mau KPK, Polri, Hakim, Jaksa) yang korup. Bukan saling menghancurkan institusi. Polisi sujud syukur mendengar BG dimenangkan. Bukankah kita semua benci dengan koruptor? Bukankah kita sepakat, kita akan memperbaiki Indonesia ini?

Jika kita sepakat, lantas kenapa masih ribut? Kenapa seorang Presiden tidak bisa melihat hal sesederhana itu? Bukankah Presiden juga punya cita-cita Indonesia ini bebas korupsi? Bukankah kita semua punya cita-cita itu?. Kenapa masih ribut? Karena pertikaian ini sederhana; Ada gerombolan yang ingin menguasai tampuk kekuasaan penegak hukum. Sesederhana itu. Ada 4 institusi penting penegak hukum di Indonesia: Kejaksaan Agung, Polri, Hakim dan KPK (di luar MK). Dalam setiap pergantian rezim, maka 4 institusi ini mengalami keseimbangan baru. Akan selalu ada parasit penegak hukum yang menempel pada partai politik, berusaha memenuhi ambisi kekuasaannya dengan cara-cara khas. Dan itu ada di semua institusi.

Coba saja jawab pertanyaan sederhana ini: memangnya tidak ada polisi yang bisa diterima banyak orang untuk menjadi Kapolri? Ada. Banyak. Tapi kenapa kita sudah sebulan lebih masih harus menyaksikan pertikaian ini? Apa susahnya sih mengalah? Kenapa masih harus mengotot? Karena ada sesuatu di belakangnya. Saling berkelindan, saling memerangkap. Sudah jadi rahasia umum, semua orang punya kasus hukum, punya dosa-dosa masa lalu. Kuasai empat institusi ini, maka kepentingan siapapun akan aman, setidaknya hingga rezim berganti.

Dalam konstelasi keseimbangan baru ini, susah sekali berharap akan ada yang mendahulukan kepentingan rakyat banyak. Susah. Yang ada adalah saling adu kekuatan. Saling pamer pernyataan. Akhir dari semua cerita ini gampang ditebak seperti sebelumnya: KPK yang berganti pimpinan, atau Polri yang berganti bos. Setelah KPK dan Polri dibereskan, tinggal menggarap Hakim--yang tidak akan sulit dilakukan.

Maka dalam situasi seperti ini, Jangan naif, Kawan, jangan mau dijadikan pijakan kaki doang. Kita mati-matian membela seseorang, hanya untuk dijadikan pijakan paling dasar, sementara di atas sana, elit sedang memenuhi ambisi mereka. Jangan naif, Kawan, musuh besar kita itu adalah: korupsi. Titik. Maka barangsiapa yang bermain-main soal ini, dia tidak lagi tersambung dengan perjuangan kita. Putus hubungan. Lu-gue end.

Maka sekarang, silakan dimana kalian akan berdiri. Apakah kalian akan berada di belakang penegakan hukum, perlawanan atas korupsi. Atau memilih tutup mata, bodo amat. Atau sebaliknya, memilih di seberang, apapun manut. Saya tidak pernah cemas dengan KPK. Saya mengikuti, mendukung KPK sejak berdiri. Mereka pernah kehilangan ketuanya, masuk penjara karena kasus pembunuhan dengan bumbu2 cinta. Apakah KPK jadi padam? Tidak. Mereka berganti personil, mereka kembali dengan kekuatan baru.

Kali ini, jika mereka terkapar lagi, pimpinannya masuk penjara, Polri dikuasai keseimbangan baru, Jaksa, Hakim, dikuasai gerombolan baru, apakah KPK akan mati? Tidak akan. Sepanjang masih ada suara-suara mendukung pemberantasan korupsi di negeri ini. Sepanjang masih ada yang menyalakan satu lilin kecil, lantas berdiri di gelapnya malam, berseru meski dengan suara gemetar karena gentar: saya akan berdiri di sini, memerangi koruptor.

Dan saya percaya, lilin-lilin kecil itu masih ada. Di hati kalian. Esok lusa, bersama-sama, cahayanya akan menyala terang. Membakar habis para pencuri uang rakyat, pejabat tidak amanah, para bedebah, dan politisi yang berlindung lewat kata-kata manis tapi penuh dusta.
*Tere Liye, penulis novel "Negeri Para Bedebah"

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Jangan Naif - Catatan Darwis Tere Liye

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar sesuai dengan topik post, komentar yang tidak pantas atau dianggap spam akan segera dihapus atau terjaring oleh spam filter

CC : Author