Di tengah berisiknya semua pimpinan KPK yang akan dijadika tersangka oleh Bareskrim, "Yang Terhormat Presiden Republik Indonesia Bapak Jokowi" (saya tulis sesuai surat edaran Mendagri; biar tidak keliru, nanti kena sanksi), ternyata pergi ke Malaysia dengan salah-satu agendanya adalah penanda-tanganan MOU soal mobil nasional, bekerjasama dengan Proton Malaysia.
Kerjasama tersebut ditandatangani oleh Chief Executive Officer Proton Holdings Bhd Datuk Abdul Harith Abdullah dan CEO Adiperkasa Citra Lestari AM Hendropriyono di Proton Centre of Exellence, Jumat kemarin. Turut menyaksikan acara itu di antaranya Perdana Menteri Datuk Seri Najib Tun Razak, Pemimpin Proton Tun Dr Mahathir Mohamad, serta Yang Mulia Bapak Presiden Joko Widodo
Saya setuju betul soal mobil nasional ini. Karena sudah terlalu lama, jutaan mobil berkeliaran di jalan raya, yang kaya bukan kita, melainkan negara produsennya seperti Jepang, Korea, sementara negara kita habis2an hanya ketimpa getah memberikan subsidi BBM. Tapi di tengah setuju itu, dukungan tersebut, situasi ini benar-benar menjadi anti klimaks, seperti orang nonton bola, lagi seru-serunya 3-3, tiba-tiba lampu stadion mati. Jadi lesu, malas. Terkait hal itu, maka ijinkan saya menambahkan berisik, biar tambah berisik, ada tiga pertanyaan besar:
1. Kenapa harus perusahaan milik Hendropriyono
Kenapa? Apakah tidak ada lagi pengusaha lain yang lebih baik? Why wahai "Yang Terhormat Presiden Republik Indonesia Bapak Jokowi"? Whyyy? Bukankah banyak perusahaan milik anak muda yang bebas kepentingan, bukan kroni, kolega, kerabat, orang dekat. Sensitif sedikitlah soal ini.
2. Kenapa harus dengan Proton Malaysia
Saya sih tidak sentimen dengan Malaysia-nya. Saya punya teman di sana, pembaca2 saya juga banyak di sana. Saya pastikan, siapapun yang menghina Malaysia di page ini, pasti ditendang. Pertanyaan ini simpel tentang: teknologi terdepan mobil itu terus terang tidak di Malaysia. Hingga hari ini saja, Proton itu masih belum full memproduksi sendiri (mesin terutama), masa' kita harus merujuk ke sana? Whyyy? Konsesi apa yang kita terima? Keuntungan apa yang kita dapat?
3. Lantas, bagaimana dengan ESEMKA?
Media masih mencatat dengan baik semua kalimat2 Anda dulu, wahai "Yang Terhormat Presiden Republik Indonesia Bapak Jokowi", silakan buka internet, google, lantas setelah Anda sudah menjadi orang nomor satu di negeri ini, kenapa malah lain sekali jadinya? Atau jangan2 kami saja yang GR, salah simpul.
Entahlah. Tiga pertanyaan ini saya susah mencari jawabnya. Bahkan sekarang, saya lagi mikir: jangan2 sayalah yang terlalu berisik. Seperti anak nakal di kelas, yg kerjanya berisiiikkk terus. Mengganggu pelajaran, mengganggu kesenangan seluruh kelas. Maafkan saya jika demikian. Baiklah, mungkin saya harus dihukum berdiri di pojok kelas, kaki diangkat satu, tangan hormat ke tiang bendera. Silakan lanjutan semua pesta pora kalian.
0 komentar:
Post a Comment
Silahkan berkomentar sesuai dengan topik post, komentar yang tidak pantas atau dianggap spam akan segera dihapus atau terjaring oleh spam filter
CC : Author