Media sosial ini kadangkala membuat kita meletakkan asumsi yang keliru dan naif sekali. Saya kasih misal, ketika kita membaca tulisan orang lain yang mengingatkan seorang pemimpin; maka tidak otomatis tulisan itu bermaksud menyerang pemimpin tersebut. Kita saja yang tidak tahu, kalau penulisnya siang malam justeru berdoa demi kebaikan pemimpin tersebut. Siang malam kongkret ikut mensukseskan cita-cita pemimpin tersebut. Lantas kenapa kita menyimpulkan demikian? Karena kita menggunakan asumsi diri kita sendiri. Karena kita selama ini, jika mengkritik orang lain, maka otomatis nafsu menghancurkan, menjelek-jelekkan muncul semuanya. Lupa, bahwa itu asumsi keliru dan naif sekali, orang lain tidak begitu semua, tidak seperti kita.
Contoh kedua, ketika kita membaca tulisan orang lain yang berseberangan kelompok dengan kita; maka tidak otomatis, penulisnya benci dengan kelompok kita. Kita saja yang tidak tahu, kalau penulisnya justeru lemah lembut, sayang, dan senantiasa hormat dengan kita. Selalu menghargai dan bahkan membantu kelompok kita. Lantas kenapa kita mudah sekali menyimpulkan begitu? Karena kita menggunakan asumsi versi kita saja. Sebab selama ini, jika kita benci dengan kelompok lain, benci dengan pendapat orang lain, kita akan benar-benar merah padam, mengumpat, mengeluarkan kata-kata hinaan. Kita lupa, orang lain tidak otomatis begitu, orang lain tidak seperti kita.
Di media sosial ini, kita tidak bisa menggunakan asumsi diri sendiri. Kita tidak bisa mudah sekali menyimpulkan ini itu hanya berdasarkan versi kita saja. Dan ingat loh, persoalan ini, bukan cuma soal tulisan2 serius seperti konstelasi politik, dll. Juga menyangkut postingan lain sehari-hari. Bahkan hal simpel misalnya: gebetan kalian diam-diam posting status "Eh kamu hari ini cantik sekali dengan baju merah." Jangan buru-buru berteriak horeee, dia muji aku, dia bilang aku cantik, karena itu asumsi kita sendiri, dan kita memakai baju merah hari ini. Boleh jadi gebetan kalian itu justeru sedang memuji gadis lain. Kan jadi malu, sudah GR mati-matian, ternyata asumsinya keliru.
Juga sama dengan kasus, ada orang yang memposting: "Aku baru tahu kalau dia punya panu di pantat." Aduh, jangan pernah dengan cepat berasumsi yang memposting sedang nyindir kita, lantas kita ngamuk nulis komen: "Kurang ajar, kalau berani ngomong langsung, oi. Jangan nyindir." Tuh, kan, belum jelas apa maksud postingan itu, kita sendiri telah mengumumkan dan mengakui, kalau kita punya panu di pantat. Padahal yang nulis postingan maksudnya bilang dia baru tahu kucing kesayangannya punya bercak kayak panu di pantatnya. Jadilah semua orang tahu kita punya panu.
Berhentilah meletakkan asumsi yang keliru dan naif sekali atas setiap postingan orang lain. :)
Media sosial ini persis seperti majalah dinding, semua orang bisa meletakkan tulisan di mading itu. Sebagai pembaca, maka kita berdiri tegak membaca, tidak perlu bereaksi berlebihan. Jika tulisannya lucu, kita tertawa, berkomentar secukupnya. Jika tulisannya penuh inspirasi, kita mengangguk takjim, berkomentar secukupnya. Jika tulisannya bermanfaat, kita bagikan, kita pahami, berkomentar secukupnya. Jika tulisannya lebay, jelek, tidak sependapat dan sebagainya menurut kita, pun sama, cukup berhenti dibaca, pindah ke tulisan lain, tidak perlu habiskan waktu untuk tersinggung, komentar marah, apalagi memaki. Karena boleh jadi, maksud tulisan tersebut tidak seperti yang kita pikirkan.
Sepakat? Baik.
Adios.
0 komentar:
Post a Comment
Silahkan berkomentar sesuai dengan topik post, komentar yang tidak pantas atau dianggap spam akan segera dihapus atau terjaring oleh spam filter
CC : Author